Label

Minggu, 10 Juli 2016

pengorbanan anak pertama yang membuat adiknya sukses dalam studinya

Suatu ketika, saat di ruang tunggu Airport, terjadilah sebuah percakapan pendek bersama seorang ibu. Percakapan tersebut sederhana namun sangat membuat haru.

Saya sempatkan bertanya kepada ibu tersebut perihal hendak ke mana tujuannya. Beliau menjawab hendak bepergian ke Jakarta untuk transit sebelum kemudian terbang ke Singapore. Kemudian beliau bercerita secara lengkap.

“Di Singapore, tujuan saya hendak mengunjungi menantu saya yang sedang akan menjalani persalinan anaknya yang kedua. Anak saya adalah kepala cabang sebuah perusahaan minyak di Singapore …,” tuturnya bercerita, “ituanak saya yang keempat, anak yang terakhir, mas.”

“Anak ibu yang lain sekarang di mana?” Tanya saya penasaran.

Anak saya yang nomor tiga sekarang sedang menjadi kandidat doktor di Amerika. Alhamdulillah, mohon doanya …,” lanjutnya. “Sedangkan anak saya yang nomor dua adalah dokter di Surabaya, dan suaminya menjadi dosen di Unair.”

“Alhamdulillah, luar biasa. Ibu telah melahirkan anak-anak yang hebat dan membanggakan …,” demikian statement saya turut memberikan kebanggaan kepada ibu tersebut.

Lalu, saya bertanya lagi penasaran. “Kalau anak ibu yang pertama, sekarang beliau di mana?”

Anak saya yang pertama “macul” (mencangkul), mas. Ia tiap hari ke sawah. Ia adalah petani biasa di desa …,” kisahnya yang membuat saya berhenti berkomentar untuk beberapa saat.

Saya tercekat. Diam beberapa saat, untuk kemudian memberanikan diri bertanya lagi seraya ada perasaan takut, karena takut pertanyaan saya membuat ibu tersebut menjadi tersinggung.

“Apakah ibu merasa kecewa dengan anak ibu yang pertama?” tanya saya.

“Tidak …. Justru anak kebanggaan saya adalah anak saya yang pertama. Kebanggaan saya kepada anak saya yang pertama melebihi kebanggaan saya kepada anak-anak saya yang lain. Ia adalah seorang pejuang. Yang memperjuangkan adik-adiknya hingga sekarang menjadi sukses semuanya. Suami saya meninggal saat anak-anak saya masih kecil. Lalu, anak saya yang pertama itulah yang mengambil alih semua beban tanggung jawab untuk menghidupi adik-adiknya. Ia bekerja di sawah, semuanya ia lakukan untuk menghidupi dan membiayai adik-adiknya sekolah hingga ke jenjang perguruan tinggi …,” demikian kisahnya membuat saya haru.

Saya tersihir dalam senyap. Sendu. Hati saya terendam dalam air mata. Saya menyeka air mata, untuk kemudian mengucapkan terima kasih kepada ibu tersebut karena telah memberikan sebuah kisah yang sangat menyentuh untuk saya.

Sebuah nilai moral penting: “Ukuran kesuksesan dan penghargaan pada diri seseorang bukanlah dilihat dari profesi orang tersebut, namun dilihat dari kapasitas kebaikan orang tersebut.”

=====

Demikian kisah untuk kali ini, jika anda ingin membaca artikel-artikel menarik yang lainnya, ikutilah di website kami: www.belajarmembaca.co.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar